Rabu, 01 Februari 2017

makalah aik



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  latar Belakang
Terpuruknya nilai–nilai pendidikan dilatar belakangi oleh kondisi internal Islam yang tidak lagi menganggap ilmu pengetahuan umum sebagai satu kesatuan ilmu yang harus diperhatikan. Selanjutnya, ilmu pengetahuan lebih banyak diadopsi bahkan dimanfaatkan secara komprehensif oleh barat yang pada masa lalu tidak pernah mengenal ilmu pengetahuan.
Secara garis besar ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya proses pembaharuan Islam. Pertama faktor internal yaitu, faktor kebutuhan pragmatis umat Islam yang sangat memerlukan satu system yang betul – betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia – manusia muslim yang berkualitas, bertaqwa, dan beriman kepada Allah. Kedua faktor eksternal adanya kontak Islam dengan barat juga merupakan faktor terpenting yang bisa kita lihat. Adanya kontak ini paling tidak telah menggugah dan membawa perubahan phragmatik umat Islam untuk belajar secara terus menerus kepada barat, sehingga ketertinggalan yang selama ini dirasakan akan bisa terminimalisir.
Dalam makalah ini, kami lebih menekankan pada makna pembaharuan beserta landasan dan tujuan pembaharuan Islam.

1.2  Pembatasan Masalah
            Dalam penulisan makalah ini, kami membatasi masalanya  sebagai berikut
  1. Hakikat Makna Pembaruan Islam
  2. Landasan Bagi Pembaruan Islam
  3. Perkembangan Ajaran Islam pada Masa Pembaruan
  4. Tokoh-tokoh Pembaruan Islam dan Pemikiranya
  5. Tujuan Pembaruan dalam Islam
  6. Ijtihad sebagai Kunci Pembaruan Islam


1.3  Tujuan penulisan makalah
            Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penulisan ini diarahkan untuk  mengetahui
  1. Hakikat Makna Pembaruan Islam
  2. Landasan Bagi Pembaruan Islam
  3. Perkembangan Ajaran Islam pada Masa Pembaruan
  4. Tokoh-tokoh Pembaruan Islam dan Pemikiranya
  5. Tujuan Pembaruan dalam Islam
  6. Ijtihad sebagai Kunci Pembaruan Islam


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Makna Pembaruan Islam
Dalam kosakata “Islam”, term pembaruan digunakan kata tajdid, kemudian muncul berbagai istilah yang dipandang memiliki relevansi makna dengan pembaruan, yaitu modernisme, reformisme, puritanis-me, revivalisme, dan fundamentalisme.
Di samping kata tajdid, ada istilah lain dalam kosa kata Islam tentang kebangkitan atau pembaruan, yaitu kata islah. Kata tajdid biasa diterjemahkan sebagai “pembaharuan”, dan islah sebagai “perubahan”. Kedua kata tersebut secara bersama-sama mencerminkan suatu tradisi yang berlanjut, yaitu suatu upaya menghidupkan kembali keimanan Islam beserta praktek-prakteknya dalam komunitas kaum muslimin.
Senada dengan hal di atas, Din Syamsuddin mengatakan bahwa pembaruan Islam merupakan rasionalisasi pemahaman Islam dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan. Sebagai salah satu pendekatan pembaruan Islam, rasionalisasi mengandung arti sebagai upaya menemukan substansi dan penanggalan lambang-lambang, sedangkan kontekstualisasi mengandung arti sebagai upaya pengaitan substansi tersebut dengan pelataran sosial-budaya tertentu dan penggunaan lambang-lambang tersebut untuk membungkus kembali substansi tersebut. Dengan ungkapan lain bahwa rasionalisasi dan kontekstualisasi dapat disebut sebagai proses substansi (pemaknaan secara hakiki etika dan moralitas) Islam ke dalam proses kebudayaan dengan melakukan desimbolisasi (penanggalan lambang-lambang) budaya asal (baca: Arab), dan pengalokasian nilai-nilai tersebut ke dalam budaya baru (lokal). Sebagai proses substansiasi, pembaruan Islam melibatkan pendekatan substantivistik, bukan formalistik terhadap Islam.



2.2  Landasan Bagi Pembaruan Islam
Sebagaimana diuraikan di awal tulisan ini bahwa pembaruan Islam merupakan suatu keharusan bagi upaya aktualisasi dan kontekstualisasi Islam. Berkaitan dengan hal ini, maka persoalan yang perlu dijawab adalah hal-hal apa saja yang dapat dijadikan pijakan (landasan) atau pemberi legitimasi bagi gerakan pembaruan Islam (tajdid). Di antara landasan dasar yang dapat dijadikan pijakan bagi upaya pembaruan Islam adalah landasan teologis, landasan normatif dan landasan historis.
1.      Landasan Teologis
Menurut Achmad Jainuri dikatakan bahwa ide tajdid berakar pada warisan pengalaman sejarah kaum muslimin. Warisan tersebut adalah landasan teologis yang mendorong munculnya berbagai gerakan tajdid (pembaruan Islam). Selanjutnya — masih menurut Achmad Jainuri—bahwa landasan teologis itu terformulasikan dalam dua bentuk keyakinan, yaitu:
Pertama, keyakinan bahwa Islam adalah agama universal (univer-salisme Islam). Sebagai agama universal, Islam memiliki misi rahmah li al-‘alamin, memberikan rahmat bagi seluruh alam. Universalitas Islam ini dipahami sebagai ajaran yang mencakup semua aspek kehidupan, mengatur seluruh ranah kehidupan umat manusia, baik berhubungan dengan habl min Allah (hubungan dengan sang khalik), habl min al-nas (hubungan dengan sesama umat manusia), serta habl min al-‘alam (hubungan dengan alam lingkungan). Dengan terciptanya harmoni pada ketiga wilayah hubungan tersebut, maka akan tercapai kebahagiaan hidup sejati di dunia dan di akherat, karena Islam bukan hanya berorientasi duniawi semata, melainkan duniawi dan ukhrawi secara bersama-sama.
Kedua, keyakinan bahwa Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah Swt, atau finalitas fungsi kenabian Muhammad Saw sebagai seorang rasul Allah. Dalam keyakinan umat Islam, terpatri suatu doktrin bahwa Islam adalah agama akhir jaman yang diturunkan Tuhan bagi umat manusia; yang berarti pasca Islam sudah tidak ada lagi agama yang diturunkan Tuhan; dan diyakini pula bahwa sebagai agama terakhir, apa yang dibawa Islam sebagai suatu yang paling sempurna dan lengkap yang melingkupi segalanya dan mencakup sekalian agama yang diturunkan sebelumnya. Al-Qur’an adalah kitab yang lengkap, sempurna, dan mencakup segala-galanya; tidak ada satupun persoalan yang terlupakan dalam al-Qur’an. Keyakinan yang sama juga terhadap keberadaan Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi akhir jaman (khatam al-anbiya’), yang tidak akan lahir (diutus) lagi seorang pun Nabi setelah Nabi Muhammad Saw, dan risalah yang dibawa Muhammad diyakini sebagai risalah yang lengkap dan sempurna.
  1. Landasan Normatif
Landasan normatif yang dimaksud dalam kajian ini adalah landasan yang diperoleh dari teks-teks nash, baik al-Qur’an maupun al-Hadis. Banyak ayat al-Qur’an yang dapat dijadikan pijakan bagi pelak-sanaan tajdid dalam Islam karena secara jelas mengandung muatan bagi keharusan melakukan pembaruan. Di antaranya surat al-Dluha: 4. “Sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang dahulu”, Ayat lainnya adalah surat ar-Ra’d: 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri….”
Sementara itu, dalam hadis Nabi dapat kita temukan adanya teks hadis yang menyatakan bahwa “Allah akan mengutus kepada umat ini pada setiap awal abad seseorang yang akan memperbarui (pema-haman) agamanya”.      Menurut Achmad Jainuri, dikalangan para pakar terdapat perbedaan interpretasi mengenai kata ‘ala ra’si kulli mi’ati sanah (setiap awal abad) ini berkaitan dengan saat munculnya sang mujaddid. Sebagian lain mengkaitkan dengan tanggal kematian. Hal ini sesuai dengan tradisi penulisan biografi dalam Islam yang biasanya hanya menunjuk tanggal kematian seseorang. Jika arti kata tersebut dikaitkan dengan tanggal kelahiran, maka sulit dipahami karena sebagian mereka —yang disebutkan dalam daftar literatur sejarah Islam— telah meninggal dunia pada awal abad, yang berarti bahwa mereka belum melakukan pembaruan. Atas dasar ini, maka sebagian lagi memahami dalam pengertian yang lebih longgar dan menyatakan bahwa yang penting mujaddid yang bersangkutan hidup dalam abad yang dimaksud. Terlepas dari adanya perdebatan sebagaimana di atas (dalam memaknai awal abad), yang jelas bahwa ide tajdid dalam Islam memiliki landasan normatif dalam teks hadis Nabi.
  1. Landasan Historis
Di awal perkembangannya, sewaktu nabi Muhammad masih ada dan pengikutnya masih terbatas pada bangsa Arab yang berpusat di Makkah dan Madinah, Islam diterima dan dipatuhi tanpa bantahan. Semua penganutnya berkata: “sami’na wa atha’na”. Dalam perkembangannya, Islam baik secara etnografis maupun geografis menyebar luas, dari segi intelektual pun membuahkan umat yang mampu mengembangkan ajaran Islam itu menjadi berbagai pengetahuan, mulai dari ilmu kalam, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu tafsir, filsafat, tasawuf, dan lainnya, terutama dalam masa empat abad semenjak ia sempurna diturunkan. Di jaman itu pula para pemikir muslim dihasilkan. Mereka telah bekerja sekuat-kuatnya melakukan ijtihad sehingga terbina apa yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan Islam.
Pembaruan yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah, ditujukan kepada tiga sasaran utama yaitu, sufisme, filosof yang mendewakan rasionalisme, teologi asy’ariyah yang cenderung pasrah kepada kehendak Tuhan dan totalistik. Ketiganya dipandang sebagai menyimpang dari ajaran Islam sehingga di dalam memberikan kritik selalu dibarengi seruan kepada umat Islam agar kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah serta memahaminya. Dalam perkembangan sejarahnya bahwa gerakan pembaruan pasca Ibnu Taimiyah terus mengalami dinamisasi, dan kontinuitasnya, serta mengalami beberapa variasi corak dan penekanannya masing-masing sesuai dengan konteks waktu, tempat, dan problem yang dihadapi. Gerakan-gerakan pembaruan itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu gerakan pembaharuan pra-modern dan gerakan pembaharuan pada masa modern.
Gerakan pembaharuan pra-modern (pasca Ibnu Taimiyah), mengambil bentuknya terutama pada abad XVII dan XVIII M. Sementara itu, gerakan modern terutama dimulai pada saat jatuhnya Mesir di tangan Napoleon Bonaparte (1798-1801 M), yang kemudian menginsafkan umat Islam tentang rendahnya kebudayaan dan peradaban yang dimilikinya, serta memunculkan kesadaran akan kelemahan dan keterbelakangan.
Gerakan pembaruan pra-modern dengan dasar “kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah serta ijtihad” sebagaimana di atas, juga me-warnai gerakan pembaruan pada era modern (abad XIX dan XX M). Sebagai misal, gerakan pembaruan yang digerakkan dan dicetuskan oleh Muhammad Abduh, yang dirumuskan dalam empat aspek yaitu: pertama, pemurnian Islam dari berbagai pengaruh ajaran dan pengamalan yang tidak benar (bid’ah dan khufarat); kedua, pembaruan sistem pendidikan tinggi Islam; ketiga, perumusan kembali doktrin Islam sejalan dengan semangat pemikiran modern; keempat, pembelaan Islam terhadap pengaruh-pengaruh dan serangan-serangan Eropa.
Uraian di atas menunjukan bahwa ide pembaruan Islam yang berlandaskan teologis dan normatif, secara historis menunjukkan relevansi dengan kedua landasan tersebut (teologis dan normatif). Oleh karenanya, gerakan tajdid (pembaruan Islam) memiliki akar historis yang kuat sebagai pijakan bagi kontinuitas gerakan pembaruan Islam kini dan yang akan datang.

2.3   Perkembangan Ajaran Islam Pada Masa Pembaharuan
Salah satu pelopor pembaharuan dalam dunia islam barat adalah suatu aliran yang bernama Wahabiyah sangat berpengaruh di Abad KE-19. Pelopornya adalah Muhammad Abdul Wahabiyah (1703-1787) yang berasal dari Nejed, Saudi Arabia. Pemikiranya adalah upaya memperbaiki keadan umat Islam dan merupakan reaksi dari paham tauhid yang terdapat dikalangan Umat Islam saat itu. Dimana paham-paham tauhid mereka telah tercampur dengan ajaran-ajaran lain sejak abad ke-13.
Masalah Tauhid merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila Muhammad Abdul Wahab memusatkan perhatianya pada persoalan ini.
Adapun pokok-pokok pemikiranya adalah:
     Yang harus disembah hanyalah Allah dan orang-orang yang menyembah selain                                             Allah dinyatakan Musyrik.
    Kebanyakan orang islam bukan lagi penganut paham Tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan kepada selain Allah, melainkan kepada Syeh, Wali atau kekuatan gaib. Orang Islam yang berprilaku demikian juga dikatakan musyrik.
   Menyebut nama Nabi, Syeh atau malaikat sebagai pengantar dalam doa juga dikatakan syirik.
   Meminta syafaat selain kepada Allah juga syirik.
   Bernazar kepada selain Allah juga syirik.
   Memperoleh pengetahuan selain dari Al-qur’an, Hadis dan Qiyas merupakan kekufuran.
       Tidak mempercayai kepada Qada’ dan Qadar juga mmerupakan kekufuran.
       Menafsirkan Al-qur’an dengan Ta’wil atau interpretasi bebas juga termasuk kekufuran.
Untuk mnegembalikan kemurnian Tauhid tersebut, makam-makam yang banyak dikunjungi dengan tujuan mencari syafaat, keberuntungan dan lain-lain yang membawa kepada paham syirik, mereka berusaha menghapuskan paham ini. Pemikiran Muhammad Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan di abad ke-19 adalah:
 Hanya Al qur’an dan Hadis yang merupakan sumber asli ajaran-ajran Islam.
 Taklid kepada ulama’ tidak dibeanarkan.
 Pintu ijtihad senantiasa terbuka tidak tertutup.
Muhammd Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif berusaha mewujudkan pemikiranya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibnu Su’ud dan putranya Abdul Aziz. Paham-pahamnya tersebar luas dan pengikutnya bertambah banyak sehingga ditahun 1773 M mereka mendapat mayoritas di Riyadh. Pada tahun 1787 Muhammad Abdul Wahab meninggal, namun ajaran-ajaranya tetap hidup dan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama Wahabiyah

2.4  Tokoh-Tokoh Pembaharuan Islam Dan pemikiranya
       1.    Jamaludin Al afgani (Iran, 1838-turki, 1897)
Salah satu sumbangan terpenting di dunia Islam diberikan oleh Sayyid Jamaludin Al Afgani. Gagasanya mengilhami kaum muslim di Turki, Iran, Mesir dan India. Meskipun sangat anti imperialisme Eropa, ia mengagungkan pencapaian ilmu pengetahuan Barat. Ia tidak melihat adanya kontradiksi antara Islam dan ilmu pengetahuan. Namun, gagasan untuk mendirikan sebuah Universitas yang husus mengajarkan ilmu pengetahuan yang modern di Turki mengahdapai tantangan yang kuat dari para ulama’. Pada ahkirnya ia diusir dari Negara tersebut.
2.  Muhamada Abduh (Mesir 1849-1905) dan Muhamad Rasyid Rida (Suriah
      1865-1935)
Guru dan murid tresebut mengunjungi beberapa negara Eropa dan amat terkesan dengan pengalaman mereka disana. Rasyid Rida mendapat pendidikan Islam tradisisonal dan menguasai bahasa asing ( prancis dan turki) yang menjadi jalan masuknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara umum. Oleh karena itu, tidak sulit bagi Rida untuk bergabung dengan gerakan pembaruan Al Afgani dan Muhamad Abduh dan diantaranya melalui penerbitan jurnal Al Urwah Al Wustha yang diterbitkan diparis dan disebarkan dimesir. Muhamd Abduh sebagaimana Muhamad Abdul Wahab dan Jamaluddin Al Afgani, berpendapat bahwa masuknya bermacam bid’ah kedalam ajran Islam membuat umat Islam lupa akan ajran-ajaran Islam yang sebenarnya. Bid’ah itulah yang menjauhkan masarakat Islam dari jalan yang sebenarnya.
       3.   Toha Husain (Mesir selatan 1889-1973)
Beliau adalah seorang sejarawan dan filusuf yang sangat mendukung gagasan Muhamad Ali Pasya. Ia merupakan pendukungg modernism yang gigih. Pengadopsian terhadap ilmu pengetahuan modern tidak hanya penting dari sudut nilai praktis (kegunaan) nya saja, tetapi juga sebagai perwujudan suatu kebudayaan yang amat tinggi. Pendanganya dianggap sekularis karena mengunggulkan ilmu pengetahuan.

2.5     Tujuan Pembaruan dalam Islam
Berbicara mengenai tujuan pembaruan Islam, maka tidak dapat dilepaskan dari misi yang diemban oleh gerakan tersebut. Menurut Achmad Jainuri bahwa pembaruan Islam memiliki dua misi ganda, yaitu misi purifikasi, dan misi implementasi ajaran Islam di tengah tantangan jaman.
Bertitik-tolak dari kedua misi di atas, maka tujuan pokok dari pembaruan Islam adalah: Pertama, purifikasi ajaran Islam, yaitu mengembalikan semua bentuk kehidupan keagamaan pada jaman awal Islam sebagaimana dipraktekkan pada masa Nabi. Jaman Nabi sebagaimana digambarkan oleh Sayyid Qutb sebagai periode yang hebat, suatu puncak yang luar-biasa dan cemerlang dan merupakan masa yang dapat terulang. Terjadinya banyak penyimpangan dari ajaran pokok Islam pasca Nabi bukan karena kurang sempurnanya Islam, tetapi karena kurang mampunya untuk menangkap Islam sesuai semangat jaman; serta dalam konteks ini, banyaknya unsur-unsur luar yang masuk dan bertentangan dengan Islam sehingga diperlukan adanya upaya untuk mengembalikan atau memurnikan kembali sesuai dengan orisinalitas Islam. Upaya ini dapat dilakukan dengan membentengi keyakinan akidah Islam, serta berbagai bentuk ritual dari pengaruh sesat.
Kedua, menjawab tantangan jaman. Islam diyakini sebagai agama universal, yaitu agama yang di dalamnya terkandung berbagai konsep tuntutan dan pedoman bagi segala aspek kehidupan umat manusia, sekaligus bahwa Islam senantiasa sesuai dengan semangat jaman. Dengan berlandaskan pada universalitas ajaran Islam itu, maka gerakan pembaruan dimaksudkan sebagai upaya untuk mengimplementasi-kan ajaran Islam sesuai dengan tantangan perkembangan kehidupan umat manusia.

2.6  Ijtihad sebagai Kunci Pembaruan Islam
Untuk mewujudkan kedua tujuan di atas, maka ijtihad dapat dipandang sebagai metode pokok untuk berjalannya gerakan pembaruan Islam (tajdid). Statemen ini tentunya tidak terlalu berlebihan karena pada dasarnya pembaruan Islam akan bermuara kepada aktualisasi, rasionalisasi, dan kontekstualisasi ajaran Islam di tengah kehidupan sosial, dan semua itu memerlukan upaya ijtihady.
Aktualisasi di sini berkaitan dengan bagaimana agar pelaksanaan kehidupan umat tidak menyimpang dari ajaran Islam sekaligus bagaimana agar makna universalitas Islam dapat terwujud dan teraktualisasikan dalam semangat jaman sehingga dalam kehidupan sosial, Islam tidak dijadikan sebagai alasan terjadinya kemunduran dan kelemahan, bahkan kehancuran. Padahal, hal itu sebenarnya disebab-kan ketidakmampuannya menerjemahkan Islam dalam tatanan kehidupan yang terus berkembang.
Semangat untuk terus menghidupkan ijtihad merupakan salah satu tema pokok yang selalu digelorakan oleh para pembaru (mujaddidun).


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
  Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan penting sebagai berikut: Pertama, pembaruan Islam (tajdid) merupakan suatu keharusan karena ajaran Islam yang rahmah li al’alamin serta sebagai agama “pamungkas” menuntut adanya upaya rasionalisasi dan konteks-tualisasi sesuai dengan semangat jaman. Hal itu karena pada hakikatnya pembaruan Islam merupakan ikhtiar melakukan rasionalisasi dan kontekstualisasi ajaran Islam dalam segala ranah kehidupan.
Kedua, keharusan bagi upaya tajdid setidaknya memiliki tiga landasan dasar yaitu landasan teologis, landasan normatif, dan landasan historis. Artinya bahwa gerakan tajdid dilaksanakan dengan dasar dan pijakan yang kuat.
  Ketiga, agar tajdid dalam Islam dapat terimplementasikan dan teraktualisasikan, maka ijtihad harus dijalankan karena tajdid dan ijtihad hakikatnya merupakan dua hal yang saling terkait.
















DAFTAR PUSTAKA

Ali, Maulana Muhammad. The Religion of Islam. Kairo: The Arab Writer Publisher & Printers, t.t.
An-Na’im, Abdullah Ahmed. Dekonstruksi Syariah: Wacana Kebebasan, Hak Asasi Manusia dan Hubungan International dalam Islam, terj. Ahmad Suaedy dan Amiruddin Arrani. Yogyakarta: LKiS, 1994.
Asmuni, M. Yusran. Pengantar Studi Pemikiran dan Geerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta: Rajawali, 1998.
Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post-Modernisme. Jakarta: Paramadina, 1996.
CD Room Mausu’ah Al-Hadits Al-Syarif.
Gibb, H.A.R. Aliran-Aliran Modern Dalam Islam, terj. Machnun Husein. Jakarta: Rajawali Press, 1993.
            Mohammadenism: A Historical Survey. New York: A Galaxy Book, 1962.
Idris, Zulbadri. “Pembaharuan Islam Sebelum Periode Modern”, dalam Jurnal Media Akademika, No. 49. Tahun XIV/1998.
Jainuri, Achmad. “Landasan Teologis Gerakan Pembaruan Islam”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 3. Vol. VI, Tahun 1995.
Tradisi Tajdid dalam Sejarah Islam (bagian kedua), dalam Suara Muhammadiyah, No. 06/80/1995.
Mahmud, S.F. The Story of Islam. London & Decca: Oxford University Press, 1960.


proposal ku



EFEKTIVITAS TEORI VAN HIELE DALAM PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX SEMESTER 1 SMP NEGERI 2 KOTA PAGARALAM TAHUN AJARAN 2016/2017.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi peserta didik melalui kegiatan pengajaran. Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan sangat diperlukan untuk mengentaskan kebodohan. Dengan pendidikan, siswa diharapkan dapat mencapai perkembangan yang optimal. Oleh karena itu, siswa dituntut untuk aktif, kreatif, dan inovatif dalam merespon setiap pelajaran yang diajarkan guna meningkatkan kualitas pendidikan (Sasmita, 2012).
Kualitas pendidikan salah satunya dapat dilihat dari segi kemampuan siswa dalam mata pelajaran matematika. Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduksi, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Pada dasarnya mata pelajaran matematika senantiasa terdapat pada semua kurikulum pendidikan. Entah itu dari tingkat TK sampai dengan tingkat perguruan tinggi (Sasmita, 2012).
Dalam konteks kurikulum ditemukan 5 standar isi dalam standar matematika. Standar tersebut meliputi: bilangan dan operasinya, pemecahan masalah, geometri, pengukuran, peluang dan analisis data. Pada dasarnya pencapaian pemahaman tersebut tidak sekedar untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika saja, namun diharapkan muncul efek iringan dari pembelajaran tersebut. Efek iringan yang dimaksud adalah siswa lebih : 1) memahami keterkaitan antar topik matematika; 2) menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi bidang lain; 3) memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia; 4) mampu berpikir logis,kritis,dan sistematis; 5) kreatif dan inovatif mencari solusi; dan 6) peduli pada lingkungan sekitarnya. Dengan mengetahui efek pengiring ini, peran matematika dalam kehidupan menjadi semakin penting (Sasmita, 2012).
Kenyataan ditemukan bahwa guru sudah berusaha semaksimal mungkin mengajarkan materi-materi sesuai dengan standar isi dalam mata pelajaran matematika. Guru juga tampak antusias dalam merancang pembelajaran agar sesuai dengan tuntutan  peraturan menteri pendidikan nasional nomor 41. Namun dalam pelaksanaannya, pembelajaran yang dilakukan guru masih kurang terstruktur. Guru masih menggunakan cara mengajar yang cenderung satu arah yakni pembelajaran dari guru ke siswa yang menyebabkan terjadinya verbalisme dalam diri siswa . Tampaknya guru belum menemukan cara yang tepat dalam membelajarkan matematika agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai (Sasmita, 2012).
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu standar isi dalam standar matematika adalah geometri. Geometri adalah suatu cabang dari matematika yang mempelajari titik, garis, bidang serta ruang. Menurut Bobango (dalam Abdussakir, 2011) salah satu tujuan pembelajaran geometri adalah agar siswa dapat menjadi pemecah masalah yang baik. Meskipun demikian, yang terjadi selama ini adalah geometri merupakan materi yang sulit dipahami dan cenderung dibenci oleh kebanyakan siswa. Menurut Bobango (dalam Abdussakir, 2011) Hasil belajar semua siswa yang berkaitan dengan geometri dan pengukuran masih rendah. Dengan demikian, guru harus lebih bijaksana dalam memilih model atau pendekatan atau metode dalam menyampaikan materi matematika khususnya geometri.
Geometri menempati posisi khusus dalam kurikulum matematika karena banyaknya konsep-konsep yang termuat didalamnya (Abdussakir, 2011). Salah satu konsepnya adalah pembelajaran bangun ruang sisi lengkung. Bangun ruang sisi lengkung merupakan bagian-bagian yang berbentuk lengkungan dan biasanya bangun ruang tersebut memiliki selimut ataupun permukaan bidang. Di dalam kehidupan sehari-hari akan menemukan benda-benda seperti kaleng susu, kaleng cat, nasi tumpeng, dan bola sepak. Tabung merupakan bangun ruang sisi lengkung yang memiliki bidang alas dan bidang atas berbentuk lingkaran yang sejajar dan kongruen (Agus, 2008:18).
Guru dapat memanfaatkan hasil temuan dari penelitian mengenai teori-teori untuk menyelesaikan kesulitan siswa dalam geometri. Hasil penelitian yang dapat mengatasi kesulitan siswa dalam geometri adalah penelitian yang dilakukan Van Hiele pada tahun 1959. Menurut Afgani ( dalam Safrina, 2014) pada teori Van Hiele menjelaskan bahwa kombinasi antara waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran merupakan unsur yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa ke tingkat yang lebih tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam geometri ketiga unsur tersebut harus dapat dirancang dengan baik oleh guru dalam pembelajaran geometri.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik mengadakan penelitian tentang Efektivitas Teori Van Hiele Dalam Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Lengkung Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IX Semester 1 SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.

1.2  Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, di atas dapat dirumuskan permasalahan Apakah Penggunaan Teori Van Hiele efektif Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Lengkung Kelas IX Semester 1 SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017 ?
1.2.2  Batasan Masalah
Agar permasalahan dalam penelitian ini tidak terlalu luas dan tidak menyimpang dari sasaran yang diharapkan, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini pada :
1).  Pembelajaran Teori Van Hiele diterapkan di kelas IX  SMP Negeri 2 Kota      Pagaralam.
2).  Materi yang diajarkan yakni materi bangun ruang sisi lengkung pada sub   pokok bahasan tabung di kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam.
3).  Siswa yang diteliti adalah siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017

1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Apakah penggunaan Teori Van Hiele pada pembelajaran bangun ruang sisi lengkung efektif terhadap hasil belajar siswa di kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.    Bagi Siswa
Siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikirnya dan mengatasi kesulitan belajar siswa melalui Teori Van Hiele sehingga setiap siswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih banyak.
2.    Bagi Guru
Dapat membandingkan prestasi siswa melalui pembelajaran Teori Van Hiele pada materi bangun ruang sisi lengkung.
3.    Bagi Sekolah
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengadakan variasi teori pembelajaran sebagai usaha meningkatkan hasil belajar siswa.
4.    Peneliti
Menambah ilmu pengetahuan yang telah dimiliki peneliti dan merupakan wahana untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat dibangku kuliah.

1.5 Anggapan Dasar dan Hipotesis
1.5.1 Anggapan Dasar
Menurut Surakhmad anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik (Arikunto, 2010:104)
Adapun yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini adalah melalui teori van hiele dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dan dapat menyelesaikan soal pada materi bangun ruang sisi lengkung pada kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.
1.5.2 Hipotesis
Hipotesis diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2010:110).
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah Penggunaan Teori Van Hiele Efektif Terhadap hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Lengkung kelas IX  SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.





















II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Slameto (2003:2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Gagne (dalam Abdurrahman, 2009:32), proses belajar hendaknya bertahap, dari yang paling sederhana ke kompleks. Anak dapat belajar sesuatu lebih cepat melalui pengamatan atau melihat perilaku orang lain. Menurut Bandura (dalam Abdurrahman, 2009:32), adanya empat komponen dalam proses belajar melalui pengamatan, yaitu: (1) perhatian, (2) pencaman, (3) reproduksi gerak motorik, (4) ulangan penguatan dan motivasi. Setelah anak mencamkan dan menyimpan hasil pengamatannya dalam bentuk simbol-simbol.
Dari uraian pendapat di atas maka dapat dirumuskan definisi belajar yaitu suatu proses untuk mencapai suatu tujuan yaitu perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan tersebut adalah proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perilaku yang relatif menetap.



2.2 Pengertian Matematika
Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan dengan ide dan penalaran. Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu merupakan sistem-sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep abstrak, dimana masing-masing bersifat deduktif sehingga berlaku umum dalam menyelesaikan masalah. Banyak orang yang mempertukarkan antara matematika dengan aritmatika dan berhitung. Padahal matematika memiliki cakupan yang lebih luas daripada aritmatika. Aritmatika hanya merupakan dari matematika, dari berbagai bidang studi yang diajarkan disekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa  baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih bagi siswa yang berkesulitan belajar.
Menurut Johnson dan Myklebust (dalam Abdurrahman, 2003:252) Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan kuantitafif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Lerner (dalam Abdurrahman, 2003:252) mengemukakan bahwa matematika disamping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kualitas.
Matematika sebagai ilmu mengenai struktur dan hubungannya dengan simbol-simbol yang diperlukan. Simbol-simbol itu sangat penting untuk membantu memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbol-simbol menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru.
Mempelajari matematika harus teratur dan memperhatikan hubungan keterkaitan  dengan materi yang mendasari serta harus memperhatikan kemampuan sebagai individu sehingga penyajian ide atau konsep matematika yang harus didasarkan pada pengalaman sebelumnya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan penelahaan bentuk, struktur yang abstrak serta pola berpikir dalam memecahkan suatu masalah dimana diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep yang ada pada matematika tersebut.

2.3 Pengertian Teori Van Hiele
Teori Van Hiele dikembangkan oleh Piere Marie van Hiele dan Dina van Hiele-Geldolf sekitar tahun 1950-an telah diakui secara internasional, hingga saat ini telah diakui secara internasional dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pembelajaran geometri disekolah. Menurut teori van hiele, seseorang akan melalui lima tahap perkembangan berpikir dalam belajar geometri (Abdussakir :2011). Kelima tahap perkembangan berpikir van hiele adalah tahap 0 (visualisasi), tahap 1 (analisis), tahap 2 (deduksi informal), tahap 3 (deduksi), tahap 4 (rigor).
Dalam (Abdussakir, 2011) Adapun tahap berpikir van hiele dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Tahap Visualisasi (tingkat 0)
Pada tahap ini siswa mengenal bentuk-bentuk geometri hanya sekedar berdasar karakteristik visual dan penampakannya. Siswa secara eksplisit tidak terfokus pada sifat-sifat obyek yang diamati, tetapi memandang obyek sebagai keseluruhan. Oleh karena itu, pada tahap ini siswa tidak dapat memahami dan menentukan sifat geometri dan karakteristik bangun yang ditunjukan.
2.Tahap Analisis (tingkat 1)
Pada tahap ini sudah tampak adanya analisis terhadap konsep dan sifat-sifatnya. Siswa dapat menentukan sifat-sifat suatu bangun dengan melakukan pengamatan, pengukuran, eksperimen, menggambar dan membuat model.
Meskipun demikian, siswa belum sepenuhnya dapat menjelaskan hubungan antara sifat-sifat tersebut, belum dapat melihat hubungan antara beberapa bangun geometri dan definisi tidak dapat dipahami oleh siswa.
    3. Tahap Deduksi informal (tingkat 2)
Pada tahap ini, siswa sudah dapat melihat hubungan sifat-sifat pada suatu bangun geometri dan sifat-sifat antara beberapa bangun geometri. Siswa dapat membuat definisi abstrak, menemukan sifat-sifat dari berbagai bangun dengan menggunakan deduksi informal, dan dapat mengklarifikasikan bangun-bangun secara hirarki. Meskipun demikian, siswa belum mengerti bahwa deduksi logis adalah metode untuk membangun geometri.
4.Tahap Deduksi (tingkat 3)
Pada tahap ini siswa dapat menyusun bukti, tidak hanya sekedar menerima bukti. Siswa dapat menyusun teorema dalam sistem aksiomatik. Pada tahap ini siswa berpeluang untuk mengembangkan bukti lebih dari satu cara. Perbedaan antara pernyataan dan konversinya dapat dibuat dan siswa menyadari perlunya pembuktian melalui serangkaian penalaran deduktif.
5. Tahap rigor (tingkat 4)
Pada tahap ini siswa bernalar secara formal dalam sistem matematika dan dapat menganalisa konsekuensi dari manipulasi aksioma dan definisi. Saling keterkaitan antara bentuk yang tidak didefinisikan, aksioma, definisi, teorema dan pembuktian formal dapat dipahami.
Teori van hiele mempunyai karakteristik, yaitu:
a.  Tahap-tahap tersebut bersifat hirarki dan sekuensial
b. Kecepatan berpindah dari tahap ketahap berikutnya lebih bergantung pada pembelajaran
c. Setiap tahap mempunyai kosakata dan sistem relasi sendiri-sendiri
d. Setiap tahap memiliki karakteristik bahasa, simbol dan metode penyimpulan   sendiri-sendiri.
2.3.1 Langkah-Langkah Pembelajaran Menggunakan Teori van hiele
Pembelajaran geometri dengan menggunakan teori van hiele adalah pembelajaran yang memperhatikan tingkat/level berpikir peserta didik , serta memiliki langkah-langkah yang terstruktur di dalam penerapannya (Sasmita, 2011). Untuk meningkatkan satu tahap berpikir ke tahap yang lebih tinggi, van hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan lima langkah, yaitu:
1. Fase informasi (information)
Bertujuan agar guru dapat mempelajari pengetahuan awal apa yang dimiliki siswa tentang topik yang dipelajari dan siswa mempelajari arah studi selanjutnya yang akan diambil.
2. Fase orientasi langsung (directed orientation)
Bertujuan merangsang siswa secara aktif untuk mengeksplorasi objek-objek (misalnya; memutar, melipat, mengukur) untuk mendapatkan hubungan prinsip dari hubungan yang sudah terbentuk, guru hanya mengarahkan siswa.
3. Fase penjelasan (explication)
Guru mengenalkan terminologi tentang geometri dan mewajibkan siswa untuk menggunakannya dalam percakapan dan dalam mengerjakan tugas.
4. Fase orientasi bebas (free orientation)
Guru menyediakan tugas yang dapat dilengkapi siswa dengan cara yang berbeda dan membuat siswa menjadi lebih cakap dengan pengetahuan geometri yang sudah diketahui sebelumnya.
5. Fase integrasi (integration)
Pembelajaran dirancang untuk membuat ringkasan dari apa yang telah dipelajari.

2.4 Pengertian Efektivitas
Efektivitas berasal dari bahasa inggris yaitu dari kata “efektivity” yang berarti tingkat kejadian, tingkat pengadaan atau tingkat keberhasilan (Adelina, 2012). Pengertian Efektivitas adalah hubungan antara output dan tujuan atau dapat juga dikatakan merupakan ukuran seberapa jauh tingkat output, kebijakan dan prosedur dari organisasi. Suatu kegiatan dikatakan efektif jika kegiatan tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap sasaran yang telah di tentukan (Arsana, 2013). Dalam (Arsana, 2013) Efektivitas di katakan berhasil jika memenuhi atau bahkan melebihi KKM pembelajaran yang diteliti.

2.5 Hasil Belajar Siswa
2.5.1 Pengertian Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku (Sudjana, 2009:3). Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti (Hamalik, 2010:30). Hasil belajar harus menunjukan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan prilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif dan disadari.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah adanya perubahan prilaku secara menyeluruh pada seseorang setelah terjadi proses belajar.


2.6 Bangun Ruang Sisi Lengkung
2.6.1 Pengertian Bangun Ruang Sisi Lengkung
Menurut Agus (2008:18) Bangun ruang sisi lengkung adalah kelompok bangun ruang yang memiliki bagian-bagian yang berbentuk lengkungan. Biasanya bangun ruang tersebut memiliki selimut ataupun permukaan bidang. Yang termasuk ke dalam bangun ruang sisi lengkung adalah tabung, kerucut, dan bola.

2.6.2 Bangun Ruang Tabung
Tabung (Silinder) merupakan bangun ruang sisi lengkung yang memiliki bidang alas dan bidang atas berbentuk lingkaran yang sejajar dan kongruen (Agus, 2008:18). Tabung dapat kita jumpai di sekolah dan dilingkungan kehidupan sehari-hari seperti gelas, kaleng susu, kaleng cat, drum, dll.
Ciri-ciri tabung:
1. Memiliki jumlah rusuk 2
2. Tidak memiliki titik sudut atau dapat disebut juga titik sudut =0
3. Memiliki 3 bidang sisi
Untuk mencari luas dan jaring-jaring di atas (luas bidang sisi tabung dengan tutup) adalah :
 secara umum ditulis :
Rumus mencari luas tabung :


Luas alas =
 
 



Rumus mencari luas selimut tabung :
Luas selimut tabung = keliling alas x tinggi


Luas selimut tabung = 2xt
 
 


L bidang sisi tabung dengan tutup :
L bidang sisi tabung dengan tutup = luas alas + luas selimut + luas tutup
L bidang sisi tabung dengan tutup =
L bidang sisi tabung dengan tutup =
Atau


L bidang sisi tabung dengan tutup = 2
 
 


L bidang sisi tabung tanpa tutup :
L bidang sisi tabung tanpa tutup =


L bidang sisi tabung tanpa tutup =
 
 


Sedangkan untuk mencari volume tabung dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
Volume tabung = Luas alas x tinggi tabung
Volume tabung = Luas lingkaran x tinggi tabung
Volume tabung =
 
Volume tabung =
















III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang  sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan factor-faktor lain yang mengganggu ( Arikunto, 2010: 37).
Rancangan kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini, peneliti mengadakan uji coba pembelajaran dengan menggunakan dua cara yang berbeda terhadap dua kelas yang terpilih yaitu kelas eksperimen menggunakan Teori Van Hiele dan kelas kontrol menggunakan model biasa (konvensional). Eksperimen ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan teori van hiele efektif terhadap hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagar Alam Tahun Ajaran 2016/2017.
Penelitian ini menggunakan desain Post-test Only Control Design. Desain penelitian tersebut adalah sebagai berikut.


E                X        
K                          

 
 
                                                                 (Sugiyono, 2010:112).

Keterangan :
E    : Kelompok Eksperimen                                          
K   : Kelompok Kontrol
X   : Perlakuan menggunakan model pembelajaran Teori Van Hiele
O : Observasi Kelompok Eksperimen Tes Akhir (Postest)
O : Observasi Kelompok Kontrol Tes Akhir (Postest)

3.2 Variabel Penelitian
Menurut Arikunto (2010:161), variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Berdasarkan definisi tersebut, variabel dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel Bebas (X)                    :  Pengajaran matematika dengan                                                                           menggunakan teori van hiele
b. Variabel Terikat (Y)                  : Hasil belajar siswa setelah menggunakan          teori van hiele
3.2.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian(Arikunto, 2010:173). Jadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.
Tabel 1
Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam
Tahun Ajaran 2016/2017

No
Kelas
Jumlah Siswa
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
1
IX.A
5
13
18
2
IX.B
6
11
17
3
IX.C
         9
14
23
4
IX.D
11
16
27
5
IX.E
13
14
27
6
IX.F
14
14
28
7
IX.G
11
16
27
8
IX.H
12
15
27
9
IX.I
10
18
28
Jumlah
91
131
222
Sumber : SMP Negeri 2 Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017
3.2.2 Sampel Penelitian
Menurut Arikunto (2010:174), sampel penelitian adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan teknik random sampling (acak), sampel yang diambil dua kelas dengan  cara acak, satu untuk kelas kontrol dan satu untuk kelas eksperimen siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.
Tabel 2
Siswa Kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagaralam
Tahun Ajaran 2016/2017
No
Kelas
Jumlah Siswa
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
1
IX.G
11
16
27
2
IX.I
11
18
29
Jumlah
22
34
56
Sumber: TU SMP Negeri 2 Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017

3.3 Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
3.3.1 Teknik Tes
Dalam penelitian ini untuk memperoleh data hasil belajar matematika siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung dipakai teknik tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2010:193). Tes yang digunakan adalah tes essay yang berjumlah 5 soal. Teknik ini dilakukan setelah perlakuan diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan tujuan mendapatkan data akhir. Tes diberikan kepada kedua kelas dengan alat tes yang sama dan hasil pengolahan data digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian.
3.3.2 Metode Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya (Arikunto, 2010:201).


3.4 Uji Coba Instrumen
3.4.1 Validitas
Menurut Arikunto (2012:79),  data yang valid itu adalah data evaluasi yang sesuai dengan kenyataan. Agar dapat diperoleh data yang valid, instrumen atau alat untuk mengevaluasinya harus valid. Data yang diperoleh dari hasil sebelum tes akhir diberikan pada subjek penelitian instrument tes terlebih dahulu diuji cobakan pada kelas IX SMP Negeri 2 Kota Pagar Alam. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment.
Adapun rumus yang digunakan untuk mencari validitas instrumen ini adalah rumus product moment yaitu:
(Arikunto, 2010:213)
Keterangan :
rxy                                   = Koefisien kolerasi tiap item
N              = Banyak subyek uji coba
            = Jumlah skor item
                        = Jumlah skor total
          = Jumlah kuadrat skor item
          = Jumlah kuadrat skor total
          = Jumlah perkalian skor item dengan skor total.
      Kemudian hasil rxy di konsultasi dengan r tabel product moment dengan α = 5%, jika  r hitung > r tabel maka alat ukur dikatakan valid.

3.4.2 Reliabilitas
Menurut Arikunto (2010:221) reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Rumus untuk mengukur reliabilitas adalah.
            (Arikunto, 2010:239)
Keterangan :
            : Reliabilitas instrumen
k                : Banyaknya butir pertanyaan atau butir soal
        : Jumlah varians butir
           : Varians total
Kriteria : Jika  maka butir soal dikatakan reliabel, dengan taraf signifikan α = 5% dan dk = N-1.

Tabel 1.1 Klasifikasi Koefesien Reliabilitas
Nilai r11
Interprestasi
0,90 ≤ r11 ≤ 1,00
Reliabilitas sangat tinggi
0,70 ≤  r11 < 0,90
Reliabilitas tinggi
0,40 ≤ r11 < 0,70
Reliabilitas Sedang
0,20 ≤  r11 < 0,40
Reliabilitas rendah
r11 < 0,20
Reliabilitas  sangat rendah
( Arikunto, 2010)
3.4.3 Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Untuk menguji taraf  kesukaran soal ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
       =                                           (Rasyid dan Mansyur, 2011:241)
Keterangan :
    = Tingkat kesukaran butir soal atau proporsi menjawab benar butir i
= Banyaknya testee yang menjawab benar butir i
Smi = Skor maksimum
N   = Jumlah testee

Tabel 1.2 Kriteria Indeks Kesukaran
P (Proporsi)
Jenis soal
0,00
Sangat sukar
0,00 <  P  0,30
Sukar
0,30 <  P  0,70
Sedang
0,70 <  P  1,00
Mudah
1,00
Sangat mudah
           (Sumber : Arikunto, 2010:210)

3.4.4 Daya Pembeda
Daya pembeda soal, adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai berkemampuan tinggi dengan siswa yang bodoh berkemampuan rendah (Arikunto, 2010:211). Untuk membedakan daya pembeda soal ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
           (Arikunto, 2011:250)
Keterangan :
D                = Indeks daya pembeda butir soal
        = Jumlah skor minimal yang dijawab oleh testee kelompok atas
        = Jumlah skor minimal yang dijawab oleh testee kelompok bawah
              = Skor maksimum
N A             = Jumlah testee kelas atas
N B             = Jumlah testee kelas bawah
PA=      = Proposi Peserta kelas atas
PB=    = Proposi Peserta kelas bawah




Tabel 1.3 KRITERIA DAYA PEMBEDA
D
Daya Pembeda
D= Negatif
Semuanya Tidak Baik
Jelek
Cukup
Baik
Soal Sangat Baik
                                        Sumber: (Arikunto, 2010:218)
3.5 Teknik Analisis Data
3.5.1 Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui kenormalan kelas eksperimen, kelas kontrol, perhitungan dilakukan dari data nilai harian materi tabung. Hipotesis yang digunakan adalah:
  = Data berdistribusi normal
  = Data tidak berdistribusi normal
Adapun rumus yang digunakan adalah rumus chi-kuadrat yaitu :
                                               (Arikunto, 2010:333)
Keterangan :
     = harga chi-kuadrat                          
          = frekuensi hasil pengamatan           
          = ferkuensi yang diharapkan
            = banyaknya kelas interval
Kriteria pengujiannya yaitu :
 diterima jika pada tabel chi-kuadrat
 diterima jika  pada tabel chi-kuadrat. Dengan taraf signifikasi 5%
3.5.2 Uji Homogenitas
Hipotesis yang digunakan adalah:
 =  variannya homogen
 =     variannya tidak homogen
Rumus yang digunakan adalah :
                                        (Sudjana, 2005:249)
Keterangan :
 = Varian terbesar
 = Varian terkecil
Kriteria pengujiannya adalah diterima jika < F <

 
Sebelum sampai dalam pengujian hipotesis, penulis melakukan lansssgkah-langkah yang dianggap penting untuk  menganalisis data, sehingga kesimpulan yang penulis dapatkan benar-benar dapat dipertanggung jawabkan.
Langkah-langkah tersebut adalah :
Langkah 1. Mencari nilai rata-rata (mean) data tunggal :
                                (Sudjana, 2005:67)
Keterangan :
        = Rata-rata hitung dari hasil tes kelas i
  = Jumlah nilai tes siswa kelas i
Xi         = Jumlah siswa kelas i
Langkah  2.  Menghitung simpangan baku
                                           (Sudjana, 2005:94)
            
Selanjutnya adalah menggunakan rumus uji statistik sebagai berikut :
                                                         (Sudjana, 2005:241)
Dimana:
       = Nilai rata-rata kelas ke-1 (Kelas Eksperimen)
       = Nilai rata-rata kelas ke-2 (Kelas Kontrol)
        = Jumlah siswa kelas ke-1 (Kelas Eksperimen)
        = Jumlah siswa kelas ke-2 (Kelas Kontrol)
        = Nilai standar deviasi siswa kelas ke-1 (Kelas Eksperimen)
        = Nilai standar deviasi siswa kelas ke-2 (Kelas Kontrol)
Langkah 3. Kriteria Pengujian dari  Uji t
Penulis menggunakan uji t, uji satu pihak yaitu pihak kanan dengan taraf signifikan 5%. Tolak  jika
                                                                                               (Sudjana, 2005:243)
Dengan:
                     ;                              
               ;                         (Sudjana, 2005:243)
Kriteria pengujian adalah ; diterima H0 jika t<t1 -   dan ditolak H0  jika t mempunyai harga-harga lain, dimana derajat kebebasan untuk daftar distribusi t ialah (n1 +  n2 – 2) dengan peluang (1 – ).
Untuk menguji kriteria hipotesis ini, akan digunakan kriteria hipotesis sebagai berikut:
             :           Hasil Belajar Siswa Menggunakan Teori Van Hiele Sama Seperti Hasil Belajar Siswa Menggunakan Pembelajaran Konvensional Kelas IX  SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.
             :            Hasil Belajar Siswa Menggunakan Teori Van Hiele Lebih Baik Daripada Hasil Belajar Siswa Menggunakan Pembelajaran Konvensional Kelas IX  SMP Negeri 2 Kota Pagaralam Tahun Ajaran 2016/2017.
Uji pihak kanan dapat digambarkan seperti:
        Kurva Uji Hipotesis Pihak kanan
                             
Daerah Penerimaan H0
 
Luas = α
 
                                                                                                        Daerah Penolakan Ho





 
(Sudjana, 2005:224).

 
















DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Rineka Cipta: Jakarta.

Abdussakir. 2010. Pembelajaran Geometri Sesuai Teori Van Hiele. Jurnal Kependidikan dan Keagamaan, Vol VII Nomor 2, Januari 2010, ISSN 1693-1499. Fakultas Tarbiyah UIN Maliki: Malang.

Adelina, Rima. 2012. Analisis Efektifitas Dan Kontribusi Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) Terhadap Pendapatan Daerah Di Kabupaten Gresik. Universitas Negeri Surabaya: Surabaya.

Agus, Nuniek Avianti. 2008. Mudah Belajar Matematika Untuk Kelas IX Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah. BSE Depdiknas: Jakarta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta.

                                  . 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta.

Arsana, I Made Budi Kusuma. 2013. Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Pajak Reklame Serta Prospeknya Di Kabupaten Badung. E-Jurnal EP Unud, ISSN 2303-0178. Universitas Udayana: Badung.

Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara: Jakarta.

Rasyid, Harun dan Mansyur. 2011. Penelitian Hasil Belajar. Wacana Prima: Bandung

Sasmita, I Gst. A. A. Lisa, dkk. 2013. Pengaruh Teori Van Hiele Dalam Pembelajaran Geometri Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V Sd di Desa Sinabun. Universitas Pendidikan Ganesha: Singaraja.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor Mempengaruhinya. Rineka Cipta: Jakarta.

STKIP Muhammadiyah. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. STKIP Muhammadiyah: Pagaralam.

Safrina, Khusnul. 2014. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri Melalui Pembelajaran Kooperatif Berbasis Teori Van Hiele. Jurnal Didaktik Matematika, Vol I Nomor 1, April 2014, ISSN 2355-4185. Universitas Syiah Kuala: Banda Aceh.

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Tarsito: Bandung.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta: Bandung.